The Subtle Art of Not Giving a F*ck

Sebuah Pendekatan Mendapatkan Hidup Bahagia Dengan Bersikap Bodo Amat

INFO PRODUCT
Penulis
Mark Manson
Tahun
-
Kategori
Self Help
Pertama terbit
USA

INFO REVIEW
Read
417

GET THE COPY
Prawira
Prawira Azizi

Knowledge influencer, Strategist, Stock Investment enthusiasm

 

23 May 2020

Berikir bebas, jujur dan apa adanya adalah kesan yang saya dapatkan dari penulis buku ini. Bermula dari sana ia mengembangkan ide-ide bagaimana prinsip menjalani kehidupan yang bisa mendekatkannya pada kebahagiaan atau paling tidak menjauhi kekecewaan.

Di Amazon buku ini masuk kategori self-help, tidak seperti buku pengembangan diri lainnya yang menggunakan judul positif, isi yang memotivasi, isi yang membesarkan hati pembacanya, dan dengan kata-kata berdaya, tetapi buku ini ide dan tulisannya melawan arus, to the point, dan terbuka.

Per tulisan ini dibuat, umur buku ini sekitar 3.5 tahun sejak pertama kali terbit. Tercatat sebagai New York Time Best Seller, dan yang membuat saya heran buku ini direview oleh lebih 16.000 pembaca di Amazon, ini angka review yang fantastis, heran sekaligus menimbulkan pertanyaan; kok bisa buku  pengembangan diri direspon sebegininya?, angka diatas artinya isi buku ini “nendang” dan diterima oleh pembacanya.

Oh ya, sekali Anda googling buku ini, Anda akan menemukan banyak sekali orang yang menulis reviewnya. Dan tulisan ini bukan untuk meringkas buku setebal 246 halaman menjadi 1 halaman. Tulisan ini secara bebas mencari sisi menarik dan essensial dari buku tersebut, kemudian dituliskan dengan struktur tersendiri dengan menambahkan perspektif dan pengalaman saya sebagai pembaca buku, sama sekali tulisan ini tidak  dimaksudkan untuk merangkum semua isi buku.

 

Masa Bodoh Itu Gimana ?

Ide besar buku ini adalah tentang mendapatkan kebahagiaan hidup dengan sikap yang benar. Memang mau ngajarin sikap yang seperti apa?, sudah banyak nasihat dan panduan mengenai sikap-sikap baik yang diajarkan agama dan sudah membimbing orang pada kebahagiaan. Buku ini mengajarkan satu hal dari mungkin ratusan hal baik yang sudah ada diluar sana yaitu sikap masa bodoh terhadap hal yang tidak perlu.

Sering kali sumber ketidakbahagian kita disebabkan karena kepedulian kita pada semua hal yang tidak perlu. Manusia dewasa dihadapkan pada berbagai masalah dan tantangan, dari masalah sepele sampai masalah yang rumit tak berujung, dari jumlah yang sedikit sampai jumlah masalah yang menumpuk tak terhitung. Dan yang membuat hidup kita makin rumit bukan pada masalahnya, tetapi ketidakmampuan kita dalam menyikapi masalah, salah satunya kita mempedulikan semua masalah untuk disikapi yang akhirnya membuat kita tenggelam dalam masalah tersebut.

Buku ini mengajarkan sikap “bodo amat” yang kalau saya definisikan yaitu kemampuan kita untuk bisa mengidentifikasi apa yang seharusnya kita pedulikan dan yang tidak perlu kita pedulikan. Ketahuilah tidak seluruh masalah perlu kita sikapi, pilah-pilah yang penting, sederhana dan mendesaklah untuk kita sikapi. Selainnya lupakan saja dan bodo amat dengan sisanya itu.

Kepedulian kita pada yang remeh dan tidak perlu ini yang memunculkan rasa tidak aman atau insecure, padahal kalau jujur dan objektif mereka ini kalau kita biarkan dengan sikap masa bodo, mereka tidak akan berdampak apa-apa pada hidup kita.

Teorinya seperti ini; Perhatian yang kita berikan akan mengarahkan pikiran akan fokus kemana, lalu bentuk-bentuk pikiran ini akan menciptakan suasana hati atau perasaan. Kalau fokusnya pada hal yang salah dan tidak benar makan output perasaaan yang ditimbulkannya adalah ketidaknyamanan. Ini artinya kepandaian kita menentukan fokus perhatian akan menentukan suasana hati kita.

Kunci untuk kehidupan yang baik, bukan tentang memedulikan lebih banyak hal; tapi tentang memedulikan hal yang sederhana, penting, dan mendesak. Lalu bersikaplah masa bodo terhadap hal yang sepantasnya diabaikan.

 

Hubungan Kebahagiaan dan Sikap Bodo Amat ?

Otak kita by design sejak jaman purba adalah untuk bertahan hidup, bukan untuk bahagia. Standar responnya adalah melindungi diri kita dari ancaman luar, misalnya ketika orang bisik-bisik di depan kita maka otak kita secara default akan melakukan antisipasi yang artinya dianalisa apakah itu bentuk ancaman atau bukan. Untuk melindungi diri otak kita bekerja super otomatis, tetapi untuk bahagia kita perlu usaha, bagaimana caranya?

(tobe continue)

 

----

Mengapa Anda harus membaca sendiri bukunya ?, dan mengapa orang kaya membaca lebih banyak.